DSC_0465

PURBALINGGA  – Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto menilai kesadaran akan pentingnya arsip di kabupaten Purbalingga masih rendah. Sehingga masih banyak dijumpai  pengelolaan arsip yang dikerjakan seadanya bahkan cenderung tidak terurus dengan baik.

Bupati mengakui, masih banyak kendala yang dihadapi dalam rangka menuju pengelolaan arsip yang baik. Seperti terbatasnya sumber daya manusia yang ahli pengelolaan arsip, ruang arsip dan sarana prasarana kearsipan yang minim, termasuk anggaran pengelolaan arsip yang masih minim. Meski begitu, Bupati tak menjamin bila semua dicukupi dapat menjadikan pengelolaan arsip menjadi lebih baik.

“Jadi Break True atau terobosan yang paling penting adalah kesadaran kita bahwa arsip itu penting, arsip itu dibutuhkan dan dapat dicari dalam tempo yang sangat cepat. Itu yang pertama harus dilakukan,” tutur Bupati Sikento saat membuka Bimbingan Teknis Pengelolaan Arsip di Operation Room Graha Adiguna komplek Pendapa Dipokusumo, Senin (18/5).

Sebelumnya, pada bintek yang sama setahun yang lalu, Bupati pernah menyampaikan keinginannya agar   Purbalingga memiliki arsip yang dikelola dengan teknologi informasi (TI). Namun keinginan itu, hingga kini juga belum dapat terwujud.

“Okelah sebelum itu terwujud, terlebih dulu kita harus meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya pengelolaan arsip yang baik. Dan bintek seperti ini sangat penting dilakukan  sebagai bekal para pengelola arsip SKPD,” katanya.

Bupati juga tak menginginkan, SDM yang diditempatkan dibidang kearsipan adalah SDM buangan, tetapi SDM yang mumpuni. Karena pengelolaan kearsipan adalah salah satu hal yang penting dari bagian manajemen kita.

“Saya ingin tunjangan bagi pengelola arsip bisa sama dengan tunjangan SKPD yang lain,” katanya.

Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD), Sidik Purwanto menjelaskan, kegiatan Bintek Pengelolaan Arsip dilaksanakan guna meningkatkan wawasan dan kualitas SDM dibidang kearsipan. Termasuk meningkatkan kualitas layanan dan standarisasi kearsipan.

“Kedepan, Arsiparis diharapkan mampu melestarikan arsip bernilai guna sejarah dan dapat dilestarikan dalam bentuk diorama sejarah perjalanan bangsa atau daerah,” jelasnya.

Dalam laporanya, Sidik menyampaikan sejumlah permasalahan yang dihadapi bidang kearsipan dalam tahun anggaran 2015. Diantaranya, sesuai survey arsip, volume arsip pada 12 SKPD di kabupaten Purbalingga kurun waktu 2006 – 2013 mencapai 1.400.000 berkas. Sedangkan pengelolaan arsip in aktif SKPD hingga saat ini baru sekitar 110.000 berkas yang tersipan di depo arsip KPAD.

“Depo arsip kita hanya mampu menampung 1.800 berkas arsip. Karenanya perlu dibangun depo baru guna menampung arsip SKPD hingga kurun waktu 10 tahun mendatang,” katanya.

Sidik juga meminta tambahan tiga orang arsiparis, SDM seksi arsip baru ada dua orang yakni Kasi Arsip dan satu orang staf. Hal itu, lanjut Sidik masih sangat minim karena SKPD yang harus dibina mencapai 400 SKPD.

Bintek pengelolaan arsip dilaksanakan tiga hari hingga Rabu (20/5), diikuti 107 peserta terdiri dari 70 pengelola arsip SKPD dan 37 mahasiswa D4 Kearsipan Pokjar Purbalingga yang akan melaksanakan KKL selama sebulan di KPAD Purbalingga.

Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan itu, dari Komisi Informasi Provinsi Jawa Tengah, Pengelola D4 Kearsipan Pokjar Purbalingga, Dinhubkominfo, Bagian Organisasi dan Kepegawaian Setda dan narasumber dari KPAD Kabupaten Banyumas. (Hardiyanto)