PURBALINGGA – Untuk memberikan kenyaman dan memanjakan wisatawan menuju lokasi wisata, peran Pemerintah kabupaten (Pemkab) diperlukan dalam penyediaan infrastruktur. Dengan insfratruktur yang bagus, wisatawan benar-benar dimanjakan karena kemanapun pergi mulai dari pusat kota sampai ke lokasi wisata tidak ada gangguan. “Seperti halnya yang dilakukan di Kota Mataram dan Lombok Barat, seluruh ruas jalannya dihotmik dan tanpa lobang hingga ke pantai,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah raga (Dinbudparpora) Purbalingga Drs Subeno, SE, M.Si, Jum’at (3/4).

Subeno mengungkapkan hal tersebut ketika ditanya perihal hasil kunjungan kerja bersama Komisi III dan IV DPRD Purbalingga, pekan lalu.  Kunjungan dengan tema infrastruktur dan pariwisata.

Menurut Subeno, selain infrastruktur yang bagus di Lombok Barat, pengembangan wisata berbasis masyarakat juga terus digenjot seperti pada destinasi wisata suku sasak dan pusat kerajinan songket. Situasi alami tetap dipertahankan sebagai bagian dari keunggulan wisata. “Wisatawan benar-benar  melihat dan menikmati wisata yang original,” katanya.

Pada tanggal 25 s/d 28 Maret 2015, Komisi 3 dan Komisi 4 DPRD Kabupaten Purbalingga melakukan kunjungan kerja ke Provinsi NTB, khususnya di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Materi kunjungan meliputi dua bidang strategis yaitu bidang Pariwisata dan Infra Struktur.

Dikatakan Subeno, berbeda dengan Purbalingga, di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, Dinas Pariwisata tidak dibebani Pendapatan Asli daerah (PAD) sedikitpun. PAD diterima  bukan melalui sistem retribusi langsung seperti tiket masuk ke lokasi wisata, tapi diperoleh melalui pajak hotel dan restoran. Sektor pariwisata di kota tersebut menyumbang pendapatan 75 persen dari total seluruhnya.  Demikian juga dalam sistem perparkiran, belum dikelola secara khusus.  Praktis mekanisme pengelolaan destinasi wisata lebih banyak diserahkan kepada dunia usaha dan masyarakat. Pemerintah daerah lebih memposisikan sebagai fasilitator,serta menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan.

NTB dengan kekayaan alamnya khususnya pantai yang sangat eksotik, lanjut Subeno, benar-benar menjelma menjadi daerah wisata baru yang sangat akseleratif. Pantai Sengigi, Pantai Kuta dan juga Pantai Tanjung An, sama sekali tidak kalah dengan kekayaan wisata pulau Bali. Jadi nampaklnya pameo lama yang menyatakan bahwa NTB analog dengan “Nasibnya Tergantung Bali”, kini telah berganti  menjadi “Nasibnya Telah Berubah”.  NTB dengan ragam destinasi seperti wisata alam, wisata kuliner, wisata religi, wisata souvenir serta berbagai atraksi budaya, menjadikan NTB menjadi destinasi utama wisata Indonesia.

“Satu hal yang luar biasa dari Manfaat penting yang dapat diperoleh dari kunja ke Mataram dan NTB bagi Purbalingga diantaranya adalah dalam model pengembangan wisata. Kekayaan budaya, keunggulan alam, potensi ekonomi kreatif, kearifan lokal,  serta potensi masyarakat dan  dunia usaha /industri, dipadukan dengan optimalisasi peran Pemerintah Daerah sebagai fasilitator dan dinamisator, menjadikan pariwisata NTB sangat kompetitif.  Demikian juga kreatvitas dan inovasi dalam pengembangan kerajinan mutiara, menjadi salah satu model pengembangan industri kreatif yang dapat diadopsi sebagai upaya memperoleh multiplayer effect yang luar biasa. Untuk yang terakhir ini, barangkali bisa menjadi rujukan dalam pengembangan potensi batu Klawing,” jelasnya.

Subeno menambahkan, dari sisi kuliner, Ayam Taliwang dan Pelecing kangkung dipromosikan sedemikian gencarnya oleh Pemda sehingga menjadi ikon wisata, meski sebenarnya biasa saja. “Kesimpulannya, jika kita fokus dalam mengembangkan wisata, potensi  kuliner Purbalingga dengan soto so, soto Bancar, gulai Melung, es durian,  yang dipadu dengan wisata peminatan di desa-desa wisata, gua lawa, dan obyek wisata buatan seperti Owabong dan Purbasari Pancuran Mas, sebenarnya  merupakan anugerah luar biasa yang mampu menjadikan Purbalingga sebagai tujuan wisata utama Jawa Tengah,” tambahnya. (y)