DSC_0390

PURBALINGGA – Peringatan Hari batik Nasional yang jatuh pada setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk memasyarakatkan penggunaan produk batik di Purbalingga. Sejumlah kegiatan digelar pada Jum’at (2/10) tadi. Para perajin batik Purbalingga yang tergabung dalam Paguyuban UMKM Purbalingga mengadakan kegiatan Gelar Produk Batik Asli Purbalingga. Sedangkan sejumlah aparat kepolisian juga terlihat menggunakan perlengkapan tambahan berupa selendang batik.

“Industri batik tulis  di Purbalingga terus tumbuh dan berkembang.  Meski begitu perlu terus kita dorong upaya kaderisasi agar semakin banyak bermunculan pembatik-pembatik muda yang kreatif. Sehingga produk batik khas Purbalingga makin diminati masyarakat,” ujar  Asisten Pembangunan dan Kesra Susilo Utomo yang mewakili Pj Bupati menyerahkan hadiah bagi para juara lomba design batik di aula Griya UMKM setempat.

Dikatakan Susilo Utomo, peringatan hari batik yang ditandai dengan kegiatan lomba design batik dan gelar produk batik diharapkan mampu menggairahkan pengembangan batik tulis khas Purbalingga. Diakui Susilo, perkembangan batik tulis dewasa ini menghadapi tantangan munculnya produk kain bermotif batik yang harganya sangat murah. Menurutnya, produk tersebut bukanlah kategori batik.

“Ini perlu kita cermati bersama. Jadilah orang yang mencintai batik yang sebenar benar batik,” jelasnya.

Koordinator Farum Batik Purbalingga Yoga Prabowo menuturkan saat ini pengembangan batik tulis di Purbalingga tersebar di 9 sentra batik aktif dengan jumlah perajin mencapai 350 orang. Saat ini pihaknya terus berupaya menambah sentra-sentra baru dengan melakukan pelatihan membatik di sejumlah tempat.

“Harapan kami pengin lebih meningkat lagi. Kita sedang melakukan pendampingan sentra baru di desa Klapasawit, Senon, dan Tlahab,” katanya.

Prospek pengembangan batik, menurut Kepala Bidang UMKM Dinperindagkop Gatot Budi Raharjo masih terbuka luas. Terutama menyasar kalangan muda dan pemenuhan pasar pakaian seragam utamanya sekolah dan kantor.

“Kita terus melakukan upaya memotivasi masyarakat untuk lebih meminati batik sebagai sebuah usaha yang memiliki prospek bagus. Termasuk memotivasi masyarakat untuk menggunakan produk batik kita,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, diumumkan para pemenang lomba design batik yang diselenggarakan oleh Dinperindagkop Purbalingga. Dari 10 design batik terpilih, keluar sebagai pemenang utama adalah design batik Sapu Glagah milik Sutaryo, perajin batik asal Desa Limbasari, Bobotsari. Pemenang kedua design milik Tri Narsasi Utami asal Kelurahan Bancar berjudul Taman Knalpot. Sedangkan pemenang ketiga adalah design batik Goa Lawa milik Seno Bayumurti, perajin Jl Pucung Rumbak Purbalingga.

Selain mendapat hadiah dan piagam, design batik pemenang utama akan diusulkan menjadi design batik seragam pemkab Purbalingga. (Hardiyanto)