DSCN9156

PURBALINGGA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tegal mengirimkan mbongan Panitia Khusus (Pansus) V untuk mempelajari pola pembangunan pariwisata di Purbalingga. Pariwisata di Purbalingga dinilai berhasil dan mampu menggerakan ekonomi masyarakat serta memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.

Rombongan yang berjumlah 14 orang, diterima oleh Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga Drs Subeno, SE, M.Si, dan Kabid Pariwisata Ir Prayitno, M.Si, Senin (12/10). Usai melakukan dialog di aula Dinbudparpora, rombongan yang dipimpin Ketua Pansus V Agus Salim melakukan kunjungan ke Owabong.

Menurut Agus, pihak DPRD Kabupaten Tegal tengah mendorong untuk membangun destinasi wisata yang mampu menarik wisatawan ke Tegal. Salah satu upaya yang tengah dilakukan adalah dengan menyusun Raperda Kepariwisataan yang mengatur didalamnya tentang pengelolaan pariwisata oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

“Kami sudah melakukan kunjungan kerja ke Bandung, namun hasilnya kurang memuaskan, dan sulit untuk diaplikasikan di Tegal. Kemudian kami membahas kembali, dan meminta ijin kepada pimpinan dewan guna menimba ilmu di Purbalingga. Ternyata, kami nilai pengelolaan pariwisata melalui BUMD di Purbalingga, sangat tepat dan bisa ditiru,” ujar Agus Salim.

Menurut Agus Salim, obyek wisata yang besar di Kabupaten Tegal adalah Guci. Obyek wisata ini mampu menyetor ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 3 miliar per tahun. Namun, setelah dihitung dengan biaya operasional termasuk menggaji para PNS yang bekerja di obyek wisata itu, Pemkab harus mengeluarkan dana Rp 3,5 miliar. “Dengan potensi sumberdaya air panas, sebenarnya kami yakin pendapatan bisa lebih dari itu. Hal ini karena beberapa wahana wisata yang memanfaatkan air panas dikelola oleh pihak ketiga,” kata Agus Salim.

Dengan akan berakhirnya kontrak pihak ketiga tahun depan, lanjut Agus Salim, pihak DPRD akan mendorong eksekutif untuk mengoptimalkan pengelolaan wisata Guci seperti yang dikelola di Owabong. “Kita tidak akan bersaing dengan Owabong, karena potensi sumberdaya airnya berbeda. Di Tegal akan menjual sumberdaya air panas untuk wisata, sementara Owabong dengan sumberdaya air segar drai mata air,” kata Agus.

Sementara itu Kepala Dinbudparpora Subeno mengatakan, pengelolaan obyek wisata Owabong oleh BUMD akan mampu cepat menantisipasi jika ada pelayanan yang kurang kepada wisatawan. Berbeda jika dikelola oleh Dinas, pengelolaan pendapatan dan keuangan terbentur aturan birokrasi. “Kami cenderung, pengelolaan destinasi wisata oleh pihak ketiga dalam hal ini BUMD,” kata Subeno.

Subeno juga menyampaikan, selain Owabong, Pemkab Purbalingga berencana mengembangkan obyek wisata alam Goa Lawa. Saat ini tengah dalam kajian Detail Enginering Desain. Kedepan, Subeno cenderung melepaskan pengelolaan Goa Lawa kepada pihak BUMD. “Meski dikelola BUMD, tetapi Pemkab tetap memiliki fungsi pengawasan dan pembinaan. Pemkab nantinya lebih cenderung memfasilitasi dan membantu mempromosikan kepada pihak luar dan masyarakat umum.

Sementara itu, Direktur Utama Owabong, Wisnu Haryo Danardono, SH mengatakan, asset Owabong saat ini sudah mencapai Rp 60 miliar. Saat dibangun tahun 2004, asset awal Owabong sekitar Rp 13,5 miliar. Sedang pendapatan kotor dalam satu tahun terakhir mencapai Rp 28 miliar. “Owabong meski bersaing dengan waterpark sejenis yang saling bermunculan, tetapi kami optimis, Owabong masih menjadi pilihan kunjungan wisatawan di Jateng dan sekitarnya,” kata Wisnu. (y)